Tuanku

June 29th, 2007 by implinx-cakep

Tuhanku,

gemintang langit-Mu telah tenggelam
Semua mata makhluk-Mu telah tertidur
tapi pintu-Mu terbuka lebar,
buat pemohon kasihmu.

Aku datang menghadap-Mu memohon ampunan-Mu
kasihilah daku perlihatkan padaku wajah kakekku Muhammad SAW pada mahkamah hari kiamat.

(kemudian ia menangis)

Demi kemuliaan dan kebesaran-Mu
Maksiatku tidaklah untuk menentang-Mu
Kala kulakukan maksiat kulakukan bukan karena meragukan-Mu
bukan karena mengabaikan siksa-Mu
bukan karena menentang hukum-Mu

Kulakukan karena pengaruh hawa nafsuku
dan karena Kau ulurkan tirai untuk menutup aibku.
Kini siapakah yang akan menyelamatkan aku dari azab-Mu
kepada tali siapa aku akan bergantung,
kalau Kau putuskan tali-Mu malang nian daku
kelak ketika bersimpuh dihadapan-Mu
kala si ringan dosa dipanggil : jalanlah!
kala siberat dosa dipanggil : berangkatlah!
Aku tak tahu apakah aku berjalan dengan si ringan atau dengan si berat.
Duhai celakalah aku
bertambah umurku dan bertumpuk dosaku
tak sempat aku bertobat kepada-Mu
sekarang aku malu menghadap pada-Mu.

(ia menangis lagi)

Akankah Kaubakar aku dengan api-Mu wahai Tujuan segala kedambaan
lalu, kemana harapku
kemana cintaku
Aku menemui-Mu dengan memikul amal buruk dan hina diantara segenap makhluk-Mu tak ada orang sejahat aku.

(ia menangis lagi)

Mahasuci Engkau
Engkau dilawan seakan-akan engkau tiada
Engkau tetap pemurah seakan-akan Engkau tak pernah dilawan
Engkau curahkan kasih-Mu kepada makhluk-Mu seakan-akan Engkau memerlukan mereka
padahal Engkau wahai Junjunganku tak memerlukan semua itu.

————-
Do’a dari seorang pemuda ditengah malam yang dingin ditengah hembusan angin sahara.
pemuda saleh itu bernama : Ali Zainal Abidin Cucu Dari Imam Ali dan cicit dari Nabi Muhammad SAW

malaikatku

June 29th, 2007 by implinx-cakep

Suatu hari seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Dia bertanya kepada
Tuhan:

“Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia,
tetapi bagaimana cara saya hidup di sana, saya begitu kecil dan lemah?”

Tuhan menjawab, “Aku telah memilih satu malaikat untukmu. Ia akan menjaga dan
mengasihimu.”

“Tapi di sini, di dalam surga, apa yang pernah saya lakukan hanyalah bernyanyi
dan tertawa. Ini sudah cukup bagi saya untuk berbahagia.”

“Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari. Dan kamu akan
merasakan kehangatan cintanya dan menjadi lebih berbahagia.”

“Dan bagaimana saya bisa mengerti saat orang-orang berbicara kepadaku jika saya
tidak mengerti bahasa mereka ?”

“Malaikatmu akan berbicara kepadamu dengan bahasa yang paling indah yang pernah
kamu dengar; dan dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia akan mengajarkan
bagaimana cara berbicara.”

“Apa yang akan saya lakukan saat saya ingin berbicara kepadaMu ?”

“Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara berdoa.”

“Saya mendengar bahwa di Bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan melindungi
saya?”

“Malaikatmu akan melindungimu, walaupun hal itu mungkin akan mengancam jiwanya.”
>

“Tapi, saya pasti akan merasa sedih karena tidak melihat-Mu lagi.”

“Malaikatmu akan menceritakan padamu tentang-Ku dan akan mengajarkan bagaimana
agar kamu bisa kembali kepada-Ku, walaupun sesungguhnya Aku akan selalu berada
di sisimu.”

Saat itu Surga begitu tenangnya sehingga suara dari Bumi dapat terdengar, dan
sang bayi bertanya perlahan, “Tuhan, jika saya harus pergi sekarang, bisakah
Engkau memberitahuku nama malaikat tersebut?”

………….”Kamu akan memanggil malaikatmu, Ibu.”

Masa Kecilku

May 26th, 2007 by implinx-cakep

masa kecilku indah,,
teman2ku bernama mayat
kesukaanku bermain dengan darah
bersenda gurau dengan nyawa

masa kecilku sangat indah
ayahku seorang petani berhasil
ibuku seorang penjahit ahli
dan mereka berdua sangat mesra,,
sekarang mereka sedang tidur
terbujur kaku dan tak akan pernah terusik

masa kecilku benar2 indah..
terbukti dari adanya live musik kontemporer
siang malam gegap gempita
entahlah, aku tak tau suara apa..
membuatku tak pernah terlelap
terlalu semangat berlari
mencari teduH sembunyi

masa kecilku terlalu indah..
sampai sekarang traUma berkelanjutan
ketika cita menuntuntut dalam kesepian
aku menghabisakan banyak air mata
dan sekarang membatukan hatiku

masa kecilku memang indah
wakTu yang bengis itu benar2 pedang yang tajam
bila dikenang,, maka ada yang tertoreh

hhh.. masa keciLku…..(myquran)

Perkenalkan Kami ini Muslim.

January 6th, 2007 by implinx-cakep

Oleh Akmal

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Perkenalkan. Kami ini Muslim.

Islam adalah nama agama kami. Artinya adalah “selamat” atau “tunduk patuh.” Kami telah bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah semata. Anda tidak tahu ilah? Ilah adalah sesuatu yang diharapkan, ditakuti, dicintai, dan dipatuhi oleh manusia. Itulah pernyataan loyalitas yang kami ulang sedikitnya sembilan kali dalam sehari semalam.

Kami adalah manusia yang merdeka. Merdeka dari desakan hawa nafsu. Tidak mudah, tapi kami selalu berusaha untuk tetap loyal pada satu-satunya ilah kami. Kami bukan termasuk orang-orang yang tunduk pada keinginannya pribadi. Kami juga tidak tunduk pada godaan kesenangan badani belaka. Kami merdeka karena tunduk pada Allah semata.

Bagi kami, tidak ada yang absolut kecuali Allah. Kami tidak mengutak-atik Kitab Suci kami, bahkan tidak berani sekedar untuk menambah satu kata atau huruf baru ke dalamnya. Kami tidak berani untuk berpikir bahwa kami lebih tahu urusan kami sendiri. Ada Yang Maha Tahu yang akan menyelesaikan segala urusan kami. Kami berani di hadapan manusia dan takut di hadapan Allah, lantang di hadapan diktator dan menyerah tanpa syarat di hadapan Allah. Jangan bingung. Ini hanya masalah menempatkan diri pada kedudukannya yang benar.

Kami ini Muslim.

Anda tahu siapa kami? Kami adalah umat yang selalu menimbulkan rasa cemas kepada mereka yang diliputi dengki. Kami menyuruh putri-putri kami berhijab, dan hal itu membuat semua orang khawatir. Padahal mereka tidak ragu melepas putri-putri mereka dengan pakaian minim hingga larut malam. Ah, mereka hanya takut, karena kaum perempuan Muslim hidupnya lebih menyenangkan. Mereka takut semua perempuan akan mengikuti jejak putri-putri kami.

Agama kami memang tidak pernah menyelisihi fitrah. Semuanya sesuai dengan karakter dasar manusia. Mereka menutup aurat bukan karena terpaksa, melainkan karena memang demikianlah yang baik bagi mereka. Tanyakanlah pada putri-putrimu, bukankah hari-hari mereka dilalui dengan penuh kekhawatiran karena mata lelaki yang selalu sigap menangkap apa-apa yang sesuai dengan syahwatnya? Tanyakanlah pada kaum perempuanmu, bukankah hidup mereka penuh dengan penyesalan karena selalu disusahkan oleh para pria hidung belang? Ah, tidak perlu dijawab. Kami sudah tahu jawaban jujurnya.

Jangan heran jika kami enggan menyentuh minuman beralkohol, karena Allah memang tidak menghendaki hamba-hamba-Nya melakukan perbuatan-perbuatan yang bodoh seperti lazimnya orang mabuk. Semua hukum yang susah payah dirumuskan oleh negara-negara Barat untuk menghindari ekses negatif dari minuman keras hanya teori usang. Cukup sebuah ayat dalam Al-Qur’an, maka kami pun menjauh darinya. Inilah bukti ketundukan kami.

Mengapa kalian bingung menyaksikan kami shalat lima waktu setiap harinya? Justru kamilah yang bingung melihat kalian begitu jarang meluangkan waktu untuk Tuhan. Anda pikir shalat itu mempersulit hidup kami? Demi Allah, kami tidak membasuh kepala kami dengan wudhu dan tersungkur dalam sujud kecuali untuk mendapatkan manisnya iman. Kami paham jika Anda tidak mengerti. Rasa manis hanya dipahami oleh mereka yang memiliki lidah. Iman hanya dimengerti oleh mereka yang bersedia untuk tunduk.

Kalian yang tidak memahami lezatnya iman tidak akan mengerti tujuan hidup kami. Kami hidup hanya untuk mati. Semua manusia begitu, tapi sedikit yang mau mengakuinya. Kenyataannya semua manusia akan mati. Bedanya, kami memiliki tujuan yang pasti, dan kami yakin pada petunjuk arah yang terpampang di depan mata. Kami tidak takut mati, karena mati itu keniscayaan. Tidak ada bedanya mati sekarang atau tahun depan. Yang menjadikannya beda hanyalah caranya. Kami adalah kaum yang akan maju berdesak-desakan ketika pintu menuju syahid terbuka.

Anda tidak paham? Tentu saja, karena Anda tidak memiliki kerinduan kepada akhirat.

Siapa pun boleh menyangkal, tapi kebenaran adalah kebenaran. Kami hanya menyuarakan kebenaran, dan kebenaran itu lincah seperti air. Jika terhalang batu, ia akan mengambil jalan lain. Jika dibendung, ia akan berkumpul hingga cukup banyak dan akhirnya melimpah dari dinding yang menghadang. Jika Anda berusaha memenjarakan kebenaran yang terus mengalir dalam suatu wadah, maka niscaya kebenaran itu akan menekan ke segala arah, dan semua dinding pun akan runtuh.

Anda bisa menghina Rasul kami dengan berbagai gambar yang tak pantas, tapi semuanya hanya akan berakhir mengenaskan bagi para penghujat. Di negeri penghujat Rasulullah saw. itu, lima ribu eksemplar Al-Qur’an telah terjual dalam lima bulan saja. Anda bisa menyebarkan kabar bohong apa pun tentang kami, namun hal itu hanya akan mendorong semua orang untuk mengenal kami lebih jauh. Ini adalah kabar buruk bagi kalian, karena siapa pun yang mempelajari Islam dengan baik niscaya hatinya akan tersentuh. Teruskanlah makar ini, dan kami akan tetap menjadi pemenangnya!

Anda bisa mengajak semua orang untuk memerangi kami, namun kebenaran akan sampai juga pada telinga-telinga yang tetap terbuka. Kalian bisa membumihanguskan negeri-negeri kami, namun Islam akan sampai juga di negeri kalian. Cepat atau lambat, negeri kalian akan menerima Islam dengan tangan terbuka, karena kebenaran akan selalu menyentuh hati manusia yang cenderung pada kelembutan.

Kami ini Muslim. Kamilah yang akan memenangkan pertarungan, jika memang Anda bersikeras untuk bertarung. Tapi jangan khawatir, karena kami tidak merasa perlu memaksa Anda masuk ke dalam barisan kami. Cukuplah dengan menjadi teman yang baik, dan semuanya akan baik-baik saja. Allah SWT tidak melarang kami berteman dengan siapa pun yang tidak memerangi kami. Kepada semuanya, kami sampaikan salam hangat persahabatan: bukalah pintu hati kalian untuk kebenaran, dan ia akan datang dengan berbagai cara yang belum pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Kami adalah tangan-tangan yang saling berpegangan dan saling menjaga satu sama lainnya. Kami adalah dahaga yang saling mendahulukan. Kami adalah tubuh-tubuh yang saling menyelamatkan. Kami adalah lidah-lidah yang saling menghibur dan hati yang saling mencemaskan.

Kami adalah Muslim. Kami akan menang.

(artikel ini pernah dimuat di http://akmal.multiply.com/journal/item/399)

Wassalaamu’alaikum wr. wb.

Tips Sukses Berorganisasi

December 17th, 2006 by implinx-cakep

Saat sedang enak-enaknya berorganisasi, bisa saja tiba-tiba Anda harus menghadapi kenyataan bahwa organisasi tempat Anda beraktivitas mengalami masalah yang sangat berat. Entah itu karena faktor intern person-nya maupun karena faktor luar.
Kalau Anda nggak siap menghadapinya tentu menyulitkan bukan? Karena itulah, Anda harus ‘prepare’ terhadap segala kemungkinan. Caranya? Anda harus mengatur strategi atau siasat untuk bertahan di tempat aktivitas Anda saat ini, sekaligus melakukan antisipasi jika sewaktu-waktu Anda terpaksa ‘jobless’. Coba deh Anda simak tips di bawah ini:
• Berbicaralah pada pimpinan
Cari waktu yang paling pas untuk berbicara ‘empat mata’ dengan pimpinan. Ajaklah beliau untuk berdiskusi tentang kondisi organisasi yang sesungguhnya. Dan katakan bahwa Anda ingin bertahan dan memberikan kontribusi pada organisasi ini. Selain itu Anda pun bisa berkonsultasi pada atasan untuk memperbaiki performa kerja Anda selama ini. Dengan demikian, Anda telah menunjukkan pada pimpinan bahwa Anda masih punya motivasi untuk memajukan organisasi.
• Jalin hubungan baik dengan semua rekan
Menjalin hubungan baik dengan semua rekan-rekan Anda di organisasi, merupakan salah satu cara untuk mempertahankan ‘keberadaan’ Anda di lingkungan organisasi. Apalagi jika didukung dengan kemampuan kerja Anda yang baik. Misalnya jika di dalam rapat ada dua atau tiga orang rekan yang memuji hasil kerja Anda, tentu mereka akan pikir-pikir untuk meletakkan anda pada posisi yang kurang strategis dalam organisasi Anda.
• Lakukan pekerjaan menyebalkan
Jadilah ’sukarelawan’ di kantor/organisasi dengan melaksanakan pekerjaan yang tidak dilakukan oleh rekan lain. Misalnya membantu atasan Anda memeriksa dokumen, mengedit dan mengoreksi surat atau proposal. Dengan melakukan pekerjaan ini bisa jadi atasan akan menaruh kepercayaan khusus untuk Anda.
• Jangan mengharap pujian
Jangan kaget, kalau di saat sulit begini atasan Anda sangat ‘pelit’ pujian. Boro-boro memuji anak buahnya, memikirkan kondisi perusahaan saja sudah menyita waktu dan pikirannya. So, jangan terlalu mengharapkan pujian dan sanjungan bos atas pekerjaan yang telah Anda lakukan. Yang penting jangan berhenti untuk terus berkarya sebaik mungkin. Kalau Anda butuh ’support’ dan merasa perlu dipuji, pujilah diri sendiri.
• Kemukakan ide-ide cemerlang
Kalau sebelumnya, Anda masih ragu-ragu untuk mengungkapkan ide-ide Anda, sekarang adalah saat yang tepat. Sampaikan ide gemilang Anda. Kalau ide Anda cukup berharga bagi oarganisasi, rasanya rekan-rekan Anda akan merasa ’sayang’ kepada Anda.
• Be profesional
Bersikaplah seprofesional mungkin di kantor. Jangan mencampuradukkan urusan pekerjaan dan pribadi. Selesaikan semua urusan pekerjaan Anda tepat pada waktunya. Jangan sekalipun mengeluhkan pekerjaan Anda di kantor, terlebih di depan atasan. Tindakan Anda ini akan menambah point Anda di mata atasan.
• Investasi pendidikan
Selama masih ada kesempatan, tak ada salahnya jika Anda melanjutkan pendidikan atau mengikuti berbagai kursus untuk menambah ketrampilan dan keahlian Anda. Hal ini akan menambah kualitas diri Anda.
Bagaimana? Nggak sulit kan mengatur strategi agar Anda bisa bertahan di jaman yang serba nggak pasti ini? Satu lagi yang penting, lakukan semuanya dengan kesungguhan hati. Selamat bertahan..!

Aku Menyesal Telah Mengatakan Itu

November 29th, 2006 by implinx-cakep

Oleh Muamar Kh.
16 Nov 06 06:34 WIB
Kirim teman

Seperti biasa pagi itu sebelum berangkat kerja, aku sempatkan terlebih dahulu untuk mengantar dua buah hatiku pergi ke sekolah. Si sulung sudah kelas 1 SD dan adiknya baru TK A di sebuah sekolah Islam Terpadu di daerah Kranggan Bekasi. Walaupun aku sendiri cukup sibuk dengan persiapan berangkat kerja, tapi sorot mata pengharapan kedua buah hatiku untuk mengantarnya ke sekolah membuat aku tak kuasa menolaknya. Dan memang aku lihat ada gairah tersendiri yang menambah semangat mereka ketika aku sendiri yang mengantarnya pergi ke sekolah dibanding jika diantar oleh khadimat.

Di perjalanan pulang setelah mengantar keduanya, secara tidak sengaja aku berpapasan dengan seorang tukang las karbit keliling. Angan-anganku langsung melayang teringat akan sebuah meja pingpong (tenis meja) tua yang teronggok di depan rumahku. Walaupun sudah berkarat di sana-sini dan ada beberapa bagian yang sudah patah di kaki-kakinya, meja pingpong itu merupakan sarana silaturrahim kami dengan tetangga sekitar dalam melewatkan hari Sabtu dan Minggu setelah dalam 5 hari masing-masing disibukkan dengan urusan kerja.

Kami biasa berolah raga dengan bermain tenis meja pada hari sabtu dan minggu bahkan terkadang sampai larut malam sambil bertukar pikiran dan berdiskusi membahas apa saja untuk kebaikan lingkungan dan warga. Maklumlah di situ aku dipercaya memegang jabatan sebagai ketua RT. Sebuah jabatan yang tidak populer dan seringkali ditolak oleh sebagian besar orang ketika dipilih sebagai ketua RT.

Memang dari awal aku sudah tahu bahwa ketua RT tidak mendapatkan gaji dari jerih payahnya, harus selalu rajin ke pertemuan warga, ikut kerja bakti, siap berkorban waktu, tenaga dan pikiran, sering juga harus merogoh kocek sendiri, dan yang paling sering adalah diprotes warga ketika harus ada kenaikan iuran sekedar untuk ongkos kebersihan, keamanan atau untuk peringatan 17 Agustusan. Tetapi yang membuat aku ringan menjalaninya adalah semua aku niatkan sebagai ibadah dan semoga mendapat ridha Allah SWT.

“Bang, ke jalan Mawar X bisa?“ Tanyaku kepada Abang tukang las itu setelah menghampirinya. ”Oo… bisa, bisa…., Jalan Mawar X sebelah mana ya?” Dia balik bertanya dengan penuh antusias. “Ke sana Bang, lurus terus belok kanan dekat lapangan, yaa kira-kira 500 m dari sini,” kataku sambil menjelaskan ke arah rumahku di sebuah kompleks BTN yang cukup padat.

“Emangnya ngelas apaan sih?“ Tanya Abang tukang las itu sambil mengerutkan keningnya. Dari guratan garis wajahnya terlihat akan beratnya masa lalu dan kerasnya kehidupan yang telah dilewatinya. “Itu Bang, meja pingpong sudah banyak yang keropos dan patah,” jawabku sambil minta izin untuk mendahului pulang dengan mobil dinasku yang berplat merah agar aku bisa mempersiapkan terlebih dahulu meja pingpong itu sebelum dilas.

Di dalam hati aku berharap, mudah-mudahan tukang las itu bahagia dengan rejeki pertamanya hari itu, maklum masih pukul tujuh pagi dan yang lebih penting aku ingin membuat surprise tetangga-tetanggaku sore hari nanti ketika mereka pulang sudah mendapati meja pingpong telah rapi dan kuat sehingga menambah semangat mereka untuk berolah raga sambil silaturrahim.

Sepuluh menit kemudian tampak tukang las itu sudah sampai di ujung Jalan Mawar X seperti yang aku tunjukkan sebelumnya. Segera saja meja pingpong kami gelar untuk mengetahui bagian-bagian mana saja yang harus dilas atau dilapisi dengan plat besi agar lebih kuat. Setelah kami hitung bersama ternyata ada sepuluh titik yang harus diperbaiki, Menurut perkiraanku, biaya yang pantas untuk perbaikan itu kurang lebih limapuluh ribu rupiah.

“Nah… sekarang biayanya kira-kira berapa Bang?” tanyaku. Sejenak abang itu diam, kelihatannya agak lama dia memutuskan harga yang pas untuk transaksi itu. “Seratus tujuh puluh lima, Pak” jawabnya singkat.

Kaget juga aku mendengarnya, karena antara biaya yang aku perkirakan dengan penawaran tukang las itu sungguh jauh berbeda sehingga aku agak sulit untuk menawarnya. Namun ekspresiku tidak kutunjukkan padanya agar dia tidak kecewa. Sekedar untuk meyakinkan aku bertanya lagi, “Seratus tujuh puluh lima apaan Bang?” “Ya seratus tujuh puluh lima ribu,“ jawabnya dengan sigap.

Di dalam hati aku beristighfar, mahal amat harga yang ditawarkan Abang itu, uang Rp 175.000,- bukan jumlah yang kecil bagiku apalagi ini bukan untuk kepentingan sendiri melainkan untuk kepentingan warga yang rencananya akan aku talangin sendiri agar tidak membebani kas RT yang menurut laporan bendahara saat ini sudah minus karena ada beberapa warga yang telat membayar iuran bulanan. Bahkan ada warga yang sampai 2 tahun tidak mau membayar iuran bulanan, padahal dia berharap sampahnya diangkat setiap hari, keamanannya terjaga, urusan administrasi RT beres, dan banyak tuntutan lagi.

Sejurus kemudian secara spontan aku berkata kepada tukang las itu “Wah mejanya aja kalau dijual nggak sampai seratus ribu, Bang,” Aku menunggu reaksinya dan berharap dia mau menurunkan harga penawarannya. Tanpa kuduga sebelumnya, wajah abang itu langsung memerah menampakkan kemarahannya. Aku kaget karena dari tadi proses pembicaraan kami biasa-biasa saja dan tidak nampak adanya ketersinggungan.

Tiba-tiba dia berkata dengan nada yang lebih tinggi, “Bapak ini hanya mempermainkan saya, saya kan tidak membeli mejanya tapi disuruh ngelas, kalau begitu ya sudah, Bapak hanya nyapek-nyapekin saya aja. Apa Bapak mau tinggi-tinggian mentang-mentang berplat merah,” sergahnya sambil menunjuk ke arah mobil dinasku yang dari tadi terparkir di bawah pohon mangga depan rumahku.

Tanpa banyak omong lagi tukang las itu memutar kembali gerobak lasnya menjauhiku. Aku masih berdiri tertegun di samping meja pingpong tua itu. Jawaban dari tukang las itu serasa menampar wajahku berkali-kali. Aku tidak menyangka reaksi dari tukang las itu begitu dahsyat. Padahal aku hanya berusaha menjalankan proses tawar menawar dalam sebuah transaksi, dan itu adalah hal yang biasa.

Tidak tahu mengapa ingatanku kemudian melayang kepada berita di televisi yang memberitakan bahwa hanya gara-gara permasalahan sepele seseorang berani berbuat nekat dan masih banyak lagi gambaran buruk lainnya, dan tiba-tiba aku mengkhawatirkan diri dan keluargaku kalau di lain waktu tukang las itu akan berbuat nekat. Karena menurut beberapa cerita, banyak eks narapidana ketika di dalam penjara dilatih keterampilan mengelas, menganyam, dan berbagai keterampilan lainnya agar setelah keluar dari penjara nanti dia mampu kembali ke masyarakat dan dapat hidup mandiri.

“Astaghfirullahal ‘Adzim” ucapku lirih sambil memutus angan-anganku agar tidak keterusan. Tak kusangka, tidak lama kemudian terlihat lagi abang tukang las itu sedang menuju ke arahku. Kali ini aku tidak khawatir, justru aku gembira dalam hati “inilah kesempatanku untuk menebus kekecewaannya dan meredam amarahnya agar tidak timbul dendam kesumat di hatinya”. Memang benar dia masih marah kepadaku tentang ucapanku terakhir tadi.

Tetapi segera aku beranikan untuk memotong perkataannya dengan mengajukan penawaran harga yang tinggi dan aku yakin dia pasti mau menerimanya untuk pekerjaan yang tidak terlalu berat itu. “Bagaimana kalau seratus ribu, Bang?” kataku sembari berharap dia mau menerima tawaranku dan segera selesailah permasalahan ini walaupun sebenarnya aku keberatan dengan harga itu.

Benar saja dugaanku, walaupun masih marah abang itu langsung menjawab, “Nah begitu dong.” Dengan cekatan dia mulai mengelas satu persatu bagian yang perlu diperbaiki. Tak lupa sebatang rokok Dji Sam Soe yang dikeluarkan dari saku bajunya selalu menemaninya sampai pekerjaan tersebut selesai. Setengah jam kemudian tuntaslah pekerjaan itu.

Tiba saatnya aku memberikan upahnya. Untuk memastikan bahwa dia tidak marah lagi kepadaku, maka aku sempatkan mengambil baju batik dari gantungan lemari, kemudian aku bungkus rapi dengan koran dan aku berikan kepadanya seraya berkata, “Bang, ini ada baju batik untuk kenang-kenangan”. Dengan berbasa-basi dia menjawab “Wah ini ridho, saya jadi nggak enak nih?” “Ridho bang, itu buat Abang” kataku lagi sambil menyerahkan 2 lembar uang limapuluh ribuan. Sejurus kemudian tukang las itu mengucapkan terima kasih dan segera pergi untuk melanjutkan mencari rizki guna menafkahi anak isterinya di rumah dan tak lupa dia melambaikan tangan sembari mengucap salam kepadaku.

Aku bersyukur pada Allah SWT dapat membahagiakannya pagi ini walaupun sebelumnya aku telah membuatnya tersinggung. Aku teringat akan sebuah pepatah bijak yang diajarkan oleh ustadz ketika masih sekolah di madrasah di kampungku kira-kira 25 tahun yang lalu yaitu “Salamatul Insan fii Hifdzil Lisan” Keselamatan seseorang itu tergantung bagaimana cara menjaga lisannya.

Sekali lagi aku beristighfar dan berucap di dalam hati, “Ya.Allah.. ampunilah hamba Mu yang lemah ini, sesungguhnya dia tidak bersalah, akulah yang bersalah telah membuat hatinya terluka. Ya… Allah.. aku menyesal telah mengatakan itu padanya.”

Kh_muamar@plasa.com